Berita

Berita Thumbnail
Minggu, 12 April 2026

Inovasi Circular Water System Universitas Trisakti Diterapkan di Masjid Jepang

Air bekas wudhu yang selama ini terbuang ternyata memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali. Berangkat dari kondisi tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Trisakti melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) internasional di Kitakyushu Islamic Cultural Centre (KICC), Jepang, Sabtu (11/4/2026).

Program ini mengusung pendekatan circular water system untuk mendorong pengelolaan air yang lebih efisien dan berkelanjutan di lingkungan masjid. Mitra kegiatan ini adalah komunitas masjid KICC yang diikuti 21 peserta, terdiri dari pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan komunitas, sebagian besar Warga Negara Indonesia (WNI) yang menempuh pendidikan di Jepang.

Kegiatan bertajuk Empowerment of Mosque Communities to Implement Circular Water Systems for Recycled Ablution Water ini melibatkan komunitas masjid KICC sebagai mitra utama. Pelaksanaan program dipimpin oleh Sarah Aphirta sebagai ketua tim. Ia didampingi anggota tim dosen, yakni Annisa Dewi Akbari, Florencia Livia, dan Giraldi Fardiaz, serta didukung mahasiswa Noi Galuh Tjandra Kirana, Trinuarga Ibnu Maliki, dan Varentha Maidasany Hidayatulloh.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan air berkelanjutan, khususnya dalam aktivitas wudhu yang menggunakan sekitar 3–5 liter air per orang. Berdasarkan observasi, sistem pengelolaan air di KICC masih bersifat linear (use-and-dispose), tanpa mekanisme penampungan dan pengolahan ulang.

Kondisi tersebut dinilai tidak hanya menyebabkan pemborosan air bersih, tetapi juga memicu genangan akibat sistem drainase yang belum optimal. Padahal, air bekas wudhu termasuk kategori greywater dengan tingkat kontaminasi relatif rendah sehingga memungkinkan untuk diolah kembali.

Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-6 tentang air bersih dan sanitasi layak. Dalam pelaksanaannya, peserta diperkenalkan dengan teknologi pengolahan air berbasis Plug Flow Reactor (PFR), yang bekerja melalui kombinasi filtrasi fisik, adsorpsi, dan degradasi biologis.

Teknologi tersebut dirancang sederhana, hemat energi, dan sesuai untuk skala komunitas, dengan kemampuan menurunkan parameter pencemar seperti Biochemical Oxygen Demand (BOD) hingga 70–90 persen dan Chemical Oxygen Demand (COD) hingga 60–85 persen. Teknologi ini merupakan hasil riset yang telah memperoleh paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum Republik Indonesia, dengan Sarah Aphirta sebagai ketua inventor.

“Melalui pendekatan circular water system, air bekas wudhu tidak lagi diposisikan sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan non-konsumsi, seperti penyiraman tanaman. Dengan sistem ini, konsumsi air bersih berpotensi ditekan hingga 30–50 persen,” jelas Sarah, dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu (12/4/2026).

Program ini mendapat respons positif dari komunitas. Salah satu peserta, Irfan Tawakkal, menyebut kegiatan ini membuka wawasan baru.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena membuka wawasan kami bahwa air bekas wudhu ternyata dapat diolah dan dimanfaatkan kembali. Ini menjadi pengetahuan baru yang sangat berguna bagi kami,” ujarnya.

Selain teori, peserta juga mendapatkan praktik langsung terkait sistem pengolahan air serta strategi implementasinya di lingkungan masjid. Pendekatan partisipatif ini dinilai menjadi kunci keberlanjutan program di tingkat komunitas.

Ke depan, kegiatan ini akan dilanjutkan dengan pendampingan berkelanjutan guna memastikan sistem yang telah diperkenalkan dapat diadopsi dan dikembangkan secara mandiri oleh komunitas. Model ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai masjid lainnya, baik di Jepang maupun di negara lain, sebagai bagian dari upaya global pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan.

Sumber berita : https://rm.id/baca-berita/education/307136/inovasi-circular-water-system-universitas-trisakti-diterapkan-di-masjid-jepang