Berita

Berita Thumbnail
Minggu, 11 September 2022
Oleh: Cecep Munir

Trisakti Kukuhkan Guru Besar Ke-64

Repost Media

REKTOR Universitas Trisakti Prof Kadarsah Suryadi DEA mengukuhkan Prof Astri Rinanti sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Rekayasa Lingkungan pada Fakultas Arsitektur, Lanskap, dan Teknologi Lingkungan. Prosesi pengukuh an dilakukan dalam sidang terbuka di kampus Universitas Trisakti, Jakarta, kemarin.

Prof Astri merupakan guru besar ke-64 yang dikukuhkan di lingkup Universitas Trisakti. Hal itu menjadi momentum yang patut disyukuri dengan bertambahnya satu profesor yang benar-benar ahli di bidangnya.

“Semoga dengan pengukuhan Prof Astri Rinanti sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Rekayasa Lingkungan pada Fakultas Arsitektur Lanskap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti akan semakin meningkat peran dan fungsi perguruan tinggi saat ini,” kata Rektor.

Dalam orasi ilmiah berjudul Peran Bioteknologi dalam Rekayasa Lingkungan untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan, Prof Astri mengulas mengenai pentingnya rekayasa lingkungan berbasis bioteknologi untuk memulihkan (remidiasi) lingkungan tercemar sebab metode pengolahan secara fisik dan kimia justru kerap menimbulkan pencemaran sekunder.

“Bioteknologi lingkungan memanfaatkan aktivitas enzimatis makhluk hidup, terutama mikroba yaitu bakteri, jamur, mikroalga untuk menurunkan konsentrasi dan bahkan menyisihkan pencemar di lingkungan menjadi senyawa yang tidak beracun,” ungkapnya.

Menurut Prof Astri, metode ini bisa mengatasi pencemaran lahan pertanian yang disebabkan oleh berbagai jenis pestisida, atau menyisihkan sianida secara biologis di lahan pertambahan.

Begitu pula dengan pencemaran akibat tumpahan minyak bumi, baik di perairan maupun daratan. Pada proses bioremediasi minyak bumi, konsorsium bakteri dan fungi yang bersinergi mampu mendegradasi
minyak bumi.

Pencemaran lain seperti akumulasi mikroplastik juga bisa diatasi dengan memanfaatkan
pendekatan bioteknologi. Adapun terkait masalah gas rumah kaca, penelitian berbasis bioteknologi terus dilakukan dengan mengeksploitasi kemampuan mikroalga sebagi agen utama.

“Tantangannya ke depan ialah bagaimana mengimplementasikan hasil riset di laboratorium menuju skala yang lebih luas,” tandasnya. (Van/H-2)

Sumber: EPAPER.MEDIAINDONESIA.COM – NO.14967/TAHUN KE-53 | JUMAT, 9 SEPTEMBER 2022